RosganiSoft Mobile Article

RosganiSoft Mobile Article

Oki Rosgani  //  Visit my website at http://www.mobile-article.com or follow @rosgani on Twitter

Dec 1 / 8:05am

Let's GoBlog-ing

1322754404

Apakah kamu memiliki blog? Mungkin kebanyakan dari pembaca menjawab "Ya" karena saat ini telah banyak layanan di Internet yang menyediakan blog gratisan, baik di dalam maupun luar negeri.

Salah satu layanan penyedia blog gratisan populer yang banyak digunakan adalah WordPress (www.wordpress.com), layanan yang dimiliki oleh anak muda berbakat bernama Matt Mullenweg ini telah banyak digunakan oleh blogger profesional untuk membuat konten mereka. Dalam beberapa kali kesempatan WordPress Boot-camp telah beberapa kali diselenggarakan di Indonesia, dan menariknya Indonesia juga merupakan negara yang paling banyak menggunakan WordPress untuk media nge-blog.

Untuk memudahkan penggunanya, WordPress bahkan telah menyediakan aplikasi untuk nge-blog langsung dari perangkat ponsel mereka, melalui aplikasi WordPress for Mobile, pengguna dapat mengunduhnya di halaman www.wordpress.org dan memilih aplikasi untuk perangkat yang dimiliki (tersedia untuk Android, BlackBerry dan iOS).

Saya sendiri telah mencoba menggunakan aplikasi WordPress for Mobile ini baik untuk Android maupun BlackBerry, keduanya memiliki fungsi dan kemudahan yang sama, walau begitu ada sedikit perbedaan diantara dua versi aplikasi untuk platform tersebut. Pada WordPress Mobile untuk BlackBerry, beberapa fungsi tersimpan pada menu, namun pada WordPress Mobile untuk Android fungsi tersebut sudah muncul di halaman editor. Saat menyisipkan gambarpun kedua aplikasi itu memiliki perlakuan yang berbeda, pada BlackBerry gambar yang kita sisipkan akan ditampilkan dibagian bawah naskah namun di Android gambar akan disisipkan dibagian atas naskah, untuk merubah posisi tersebut kita harus melakukan cut pada kode HTML gambar tersebut dan mem-paste-nya pada posisi yang kita inginkan.

Namun intinya, keduanya memberikan kemudahan saat kita memposting sebuah tulisan di blog. Kini tidak ada alasan bagi kamu untuk tidak nge-blog, terlebih ketika era citizen journalism (jurnalisme warga) telah menjadi media alternatif selain media-media yang sudah ada. Ayo kita nge-blog sekarang juga.

*) Tahukah kamu, apa yang unik pada tulisan ini? : Saya ngomongin WordPress tapi di posting di Posterous, hehehe kira-kira pelanggaran enggak ya?

Filed under  //  blogging   curhat  

Comments (0)

Jun 7 / 7:44am

Apple WWDC 2010 Keynote Live Coverage

Pada hari Senin pagi Steve Jobs berada di panggung yang berada di Moscone West, San Fransisco untuk memulai event Apple Worldwide Developer Conference 2010. mungkin ia akan memperkenalkan versi berikutnya dari iPhone dan iPhone OS 4 serta perangat iPad model baru. Steve Jobs akan menjadi keynote pada acara yang dimulai pada hari Senin pukul 10:00 PDT waktu San Fransisco. Saya mengutip live blogging yang dilakukan oleh The Apple Blog :

Filed under  //  Apple   Blogging   Event  

Comments (0)

May 12 / 10:27pm

Tribute to Palm m505

Ditengah hingar-bingar perangkat konverjensi yang muncul dengan teknologi terbaru saat ini, saya malah kembali mencoba untuk menggunakan Palm m505, ini merupakan perangkat dengan platform Palm OS 4.0 dan pada peragkat m505 yang saya gunakan masih belum mendapat upgrade ke versi Palm OS 4.1.

Palm m505 adalah varian dari seri Palm m500 yang pernah saya gunakan beberapa tahun lalu, perbedaan yang mencolok adalah layarnya, dimana Palm m505 ini sudah menggunakan layar warna walau masih low-resolution sedangkan Palm m500 menggunakan layar grayscale.

Nuansa old-school sangat terasa ketika menyalakan perangkat ini, namun keberadaan Palm Wireless Keyboard menjadikan peragkat ini terlihat sungguh manis ketika Palm m505 dipadukan bersama keyboard tersebut untuk dijadikan perangkat mobile office, walau aplikasi office yang bisa disematkan kedalamnya hanyalah aplikasi Documents To Go v6.0 karena jika dipasang dengan versi yang lebih tinggi maka perangkat ini akan menolak mentah-mentah, perlu diketahui bahwa saat tulisan ini saya buat versi Documets To Go untuk Palm telah mencapai versi 11.

Kesulitan lain muncul ketika saya mencoba untuk menghubungkan Palm m505 ini ke smartphone O2 XDA II sebagai modem karena hingga saat ini driver modem untuk XDA II tidak saya temukan, saya juga sudah mencoba untuk menjalankan aplikasi Wireless Modem pada XDA yang biasa digunakan untuk melakukan tethering modem ke PC namun tetap tidak berhasil, sementara saya masih menyimpan beberapa driver ponsel yang bisa dijadikan untuk modem pada perangkat ini, mulai dari Nokia, Ericsson, Siemens. Motorola dan Philips, namun alhasil semua type ponsel tersebut sudah discontinue dan hampir sulit untuk menemukan ponsel tersebut dipasaran saat ini. Hingga akhirnya saya berhasil menghubungkan perangkat ini dengan Internet melalui PC (yang memang sudah terhubung dengan Speedy) melalui bantuan aplikasi Softick PPP.

Satu-satunya aplikasi yang berhasil digunakan untuk menghubungkan Palm m505 ini dengan dunia luar adalah Snapper Mail, aplikasi ini dulu kerap saya gunakan untuk mengakses beberapa buah mailbox yang saya akses secara pull melalui metode POP3 atau IMAP.

Beberapa aplikasi browser seperti Netfront, WebPro V, Xiino dan Blazer sudah saya coba namun hasilnya benar-benar mengecewakan, semua aplikasi browser tersebut sudah tidak bisa digunakan untuk mengakses Internet, walau aplikasi tersebut bisa berjalan dan tampil pada layar namun koneksinya selalu terputus ditengah jalan. Aplikasi QuickNews yang dulu pernah saya gunakan untuk mengakses RSS Feed juga demikian, saat ini beberapa situs tidak dapat dibaca secara sempurna oleh aplikasi QuickNews walau ada diantaranya yang masih dapat diakses, namun kendala lain muncul ketika kita ingin membaca kelanjutan dari berita tersebut karena tidak ada aplikasi browser yang dapat membuka link yang ada.

Namun untuk saat ini, setidaknya, perangkat ini masih bisa saya gunakan untuk mengeakses e-mail (walau harus dihubungkan ke PC yang terhubung ke Internet), mengetik dokumen (Word dan Excel), aplikasi PIM standar, phone book, eBook reader dan main game. Dalam waktu dekat mungkin saya akan mencoba lebih mengoptimalkan fitur-fitur dan aplikasi lainnya agar gadget ini bisa lebih bermanfaat.[Q]

(download)

Filed under  //  Palm   blogging   gadgets  

Comments (0)

Feb 12 / 5:59am

Guru Lawan Google

”It is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change.” (Charles Darwin)

Saat ini perkembangan ilmu pengetahuan telah menjadi pilar utama penyempurnaan hidup di muka bumi. Akibatnya, berbagai perubahan harus selalu terjadi setiap saat. Sesuai pernyataan Charles Darwin, jika manusia tidak ingin mengalami kepunahan, mereka harus memiliki sifat adaptif. Dalam menjalankan proses adaptasi tersebut diperlukan efektivitas untuk merespons perubahan.

Akibat perilaku yang harus adaptif ini muncul teknologi komunikasi yang mampu melintasi sekat ruang dan waktu. Perubahan di dunia dapat diketahui lewat sebuah laptop hanya dalam hitungan detik.

Agen pendidikan

Salah satu teknologi canggih yang mampu memfasilitasi ilmu pengetahuan adalah Google. Google yang lahir dari pertemuan tidak sengaja antara Larry Page dan Sergey Brin pada tahun 1995 telah membalikkan sekat keterbatasan informasi. Embrio search engine yang diberi nama BackRub, pada tanggal 7 September 1998 berkembang sempurna menjadi Google.

Mesin pencari supercanggih ini dapat mencari sebuah istilah hanya dalam satuan detik yang tersaji dalam jutaan situs internet. Di dunia pendidikan, search engine ini mampu mengubah jejaring pemikiran para pelaku pendidikan. Seorang siswa dapat searching seluas-luasnya untuk mengeksplorasi sebuah pengetahuan baru. Dari mencari arti kata, materi pelajaran, sampai teknologi yang terkini dapat digali dengan mudah. Banjir informasi menjadi fenomena yang sangat indah untuk dinikmati.

Pemahaman tentang sebuah materi pelajaran pun terolah dengan lebih baik. Siswa tidak lagi harus mengeluarkan banyak biaya untuk membeli berbagai judul buku. Cukup klik dan dapat!

Para pendidik juga tidak ketinggalan atas kehebatan teknologi mesin pencari ini. Dari pencarian silabus, soal ulangan, sampai artikel ilmiah terbaru dapat diakses dengan mudah. Transfer ilmu pengetahuan antara guru dan siswa dapat berjalan dengan efektif. Libido ilmu pengetahuan yang selama ini terkekang sekarang dapat tersalurkan dengan nyaman.

Lebih dari Google

Suatu saat pernah seorang guru menjadi merah padam di depan kelas akibat Google ini. Pagi itu seorang siswa sudah ”sarapan” dengan mengakses perkembangan teknologi terbaru melalui fasilitas Google. Kebetulan, materi pelajaran hari itu berhubungan dengan teknologi terkini yang ia temukan.

Singkat cerita, di dalam kelas, siswa mencobai gurunya dengan bertanya seputar teknologi terbaru itu. Guru yang tadi pagi hanya sarapan nasi dan tempe itu akhirnya menjawab sekenanya, dan ternyata salah. Ia pun tergagap di depan kelas karena ditertawakan para murid akibat kesalahan yang ia lakukan.

Sekelumit gambaran tadi menunjukkan pentingnya seorang guru untuk selalu meng-up grade diri. Siswa masuk kelas bukan lagi dengan tidak bermodal, tetapi telah penuh dengan fantasi dan eksplorasi ilmiahnya.

Melihat situasi ini, lantas masih perlukah peran seorang guru? Bukankah Google lebih hebat daripada guru? Jika seorang guru diadu dengan Google dalam kecepatan mengartikan, jelas guru akan kalah telak. Lalu, bagaimana nasib seorang guru selanjutnya?

Perlu diingat bahwa seorang guru bukan hanya pengajar yang mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi sekaligus sebagai pendidik yang memanusiawikan manusia menjadi sempurna. Yesus Sang Isa Almasih pernah berkata, ”Jadilah kamu sempurna seperti Bapamu di surga sempurna adanya (Injil Matius 5:48)”.

Ilmu eling marang sangkan paraning dumadi (ingat akan tujuan kita diciptakan) menjadi bekal dasar seorang guru. Guru bukan sekadar pesaing dari Google sebagai alat mentransfer ilmu pengetahuan. Guru memiliki peran lebih untuk menyempurnakan kehidupan seorang pribadi agar serupa dengan Sang Khalik. Tidak hanya menjadikan siswa having, melainkan being.

Seperti dalam agama Hindu, guru bukan saja dinobatkan sebagai sang pembagi ilmu, tetapi sebagai tempat suci yang berisi ilmu (vidya). Hal ini semakin menguatkan peran guru yang sangat mulia. Guru masih lebih unggul daripada Google karena guru mampu mengajarkan sisi humanis yang tidak dapat diberikan mesin pencari secanggih apa pun.

Dalam kehidupan nyata tidak hanya diperlukan berlimpahnya ilmu pengetahuan dalam otak, tetapi juga sisi manusiawi agar bisa memanusiawikan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan memanusiawikan manusia saat berelasi dengan pribadi lain. Bukan kebun binatang Jika guru tetap sebatas mentransfer ilmu, sekolah tidak jauh berbeda dengan kebun binatang.

Sebenarnya pendidikan bukanlah proses ”penjinakan”, tetapi ”peliaran”. Pendidikan kita seharusnya berusaha ”meliarkan”, memunculkan sifat manusiawi sebagai sifat dasar yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada makhluk yang diberi nama manusia.

Pendidikan bukanlah seperti kebun binatang dengan hiburan sirkus binatang di dalamnya. Di dalam kebun binatang terjadi proses domestikasi, yaitu membatasi kehidupan liar binatang. Akibatnya, sifat hewani tidak akan muncul dari dalam kebun binatang. Jeruji, tembok pembatas, dan ransum makanan menjadi cara untuk domestikasi. Atraksi berbagai binatang yang sering kita jumpai di kebun binatang semakin meyakinkan pembatasan kehidupan mereka.

Para binatang tidak lagi diajar untuk bisa survive di kehidupan hewani liarnya, tetapi justru diajar untuk melakukan tindakan-tindakan aneh. Mana mungkin di tengah hutan ada monyet naik sepeda. Mana mungkin di tengah samudra yang penuh kompetisi dapat diatasi lumba-lumba karena kecerdasannya dalam mengerjakan soal penjumlahan.

Jika guru telah lupa untuk mengajarkan sifat manusiawi suatu ilmu pengetahuan dan memanusiawikan peserta didik, pendidikan yang terjadi tidak jauh berbeda dengan situasi di kebun binatang. Pemahaman kita perlu disegarkan kembali bahwa teknologi hanyalah hasil akhir dari ilmu pengetahuan yang bersifat material, bisa rusak, bisa berubah, dan suatu saat bisa tidak bermanfaat. Karena itu, interaksi antarmanusia yang didasari kontak teknologi belaka akan terasa kering karena bersandar pada nilai material.

Pendidikan tidak dapat bersandar pada teknologi semata, melainkan juga harus melibatkan hati yang dimiliki setiap pribadi manusia. Akhirnya ungkapan Charles Darwin akan semakin tepat dan survive jika dipadu dengan ungkapan indah Mariah Carey dalam lagunya yang berjudul ”Hero”: If you look inside your heart… you know you can survive. (Jika engkau becermin ke dalam hatimu, engkau tahu bahwa engkau bisa bertahan!)

R ARIFIN NUGROHO Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta

Filed under  //  Artikel   blogging   opini  

Comments (0)

Feb 7 / 5:42am

Wage Nugraha, Penulis baru di FeedBerry.com

Image_00188

Jika dalam beberapa minggu belakangan ini, situs kami FeedBerry.com memiliki warna berbeda dalam beberapa tulisannya terutama pada beberapa section yang kami hadirkan, hal itu karena saat ini situs kami menjadi lebih meriah dengan hadirnya Wage Nugaraha, penulis dan blogger yang baru saja bergabung ke FeedBerry.com

Bapak dari dua orang anak ini memiliki hobby "ngoprek" alias utak-atik gadget. Almunus jurusan Teknik Kimia ITB tahun '96 ini kini aktif sebagai staff pada perusahaan bioteknologi di Bandung.

Akhirnya saya memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Kang Wage (begitu saya memanggilnya), setelah selama beberapa tahun terakhir ini kami selalu berkomunikasi hanya via e-mail, Facebook dan BlackBerry Messenger saja, ternyata dalam kesempatan yang cukup singkat kami bertemu di sela-sela acara ITB Fair 2010. Walau pertemua kami sempat terganggu karena turunnya hujan namun kami bisa saling mengenal lebih jauh dan bertukar pengalaman.

Filed under  //  blogging   opini  

Comments (0)

Feb 2 / 4:31am

Kapan waktu yang tepat untuk menggunakan iPad ?

Ipad_at_hand

 

Apple baru saja merilis perangkat baru yang bernama iPad, sebuah varian baru dari produk Apple yang sempat menjadi rumor hangat sejak tahun lalu, dimana produk ini merupakan sebuah komputer tablet yang memiliki kemampuan untuk mengakses Internet, pemutar file-file multimedia serta dapat juga digunakan sebagai pembaca eBook.

Dengan adanya produk ini, Apple sendiri telah membuat beberapa aplikasi yang ditujukan khusus untuk menjadikan perangkat ini agar dapat menjadi lebih optimal digunakan oleh penggunanya, seperti iBookstore, sebuah layanan toko buku elektronik online yang dapat diakses dan diunduh langsung melalui perangkat iPad untuk selanjutnya dibaca pada perangkat iPad.

iPad juga memiliki koneksi data 3G dan WiFi dengan standar 802.11n, dengan teknologi ini, memungkinkan bagi penggunanya untuk dapat mengakses konten web serta mengunduh file eBook, namun jangan salah mengira, karena koneksi ini hanya digunakan sebagai infrastruktur untuk mengakses data saja, koneksi data 3G ini bukan untuk digunakan sebagai jalur komunikasi suara maupun SMS, walaupun begitu kita dapat menjadikan perangkat iPad ini untuk melakukan panggilan VoIP.

Terlepas dari teknologi yang disematkan kedalamnya, saya justru melihat adanya suatu masalah kecil namun sangat krusial bagi saya, yakni “waktu”, saya tidak mengatakan bahwa Apple salah dalam menentukan waktu peluncuran perangkat ini, namun saya lebih melihat mengenai “kapan waktu yang baik untuk menggunakan perangkat ini?”

Jika ini merupakan perangkat komputasi bergerak (mobile), saya justru malah tidak melihat keunggulannya sebagai perangkat yang mudah dibawa-bawa kemanapun. Dengan ukuran layar 10 inci membuat produk ini menjadi perangkat yang tidak dibilang kecil, terlebih dengan berat 1.5 pond membuat penggunanya akan merasa pegal jika memegang perangkat ini dalam waktu yang lama.

Mungkinkah perangkat ini digunakan di rumah?, ya sangatlah mungkin, namun bagi saya yang menghabiskan waktu di depan komputer selama 6 hingga 10 jam perhari, rasanya tidak nyaman untuk menggunakan iPad yang dioperasikan dengan layar sentuh, walaupun iPad dilengkapi dengan kibor sebagai aksesoris tambahan namun sistem operasi iPhone OS 3.0 yag digunakan tidak mendukung kebutuhan multitasking yang biasa saya lakukan ketika saya harus berkatifitas di depan komputer, sementara saya bolak-balik masuk aplikasi pengolah kata dan membuka situs referensi, saya juga terkadang membuka aplikasi lainnya di PC. Jika pun saya menggunakannya selama liburan, dan saya membawa iPad ke pantai saya justru malah akan lebih khawatir layar iPad yang sensitif akan menjadi kotor terkena noda, debu atau cipratan air.

Perlu diingat bahwa saya tidak mengatakan iPad itu jelek, justru sebaliknya, iPad sebenarnya merupakan perangkat yang mumpuni digunakan untuk mengakses Internet dengan kecepatan tinggi, namun sayangnya iPad tidak cukup memenuhi kebutuhan sebagian orang, sebagian lagi bahkan mengeluhkan ketidak mampuan iPad dalam melakukan multitasking dan mengolah animasi Flash saat surfing di Internet, sebagian lagi malah kecewa karena Apple tidak menyematkan fitur kamera pada iPad.

Jika kita membutuhkan produk dengan kemampuan mobilitas dan komfortabilitas yang tinggi, mungkin iPod touch-lah yang kita butuhkan, jika masih belum puas, mungkin iPhone pilihan yang sangat tepat. Jika iPhone dan iPod touch dapat menjadi “buah” penyegar dalam hidup Anda, saya sendiri saat ini masih cukup puas dengan “buah” lain yang telah menemani saya dalam dua tahun terakhir ini.[]

Filed under  //  Apple   blogging   opini  

Comments (0)

Jan 24 / 10:50pm

CD Ubuntu gratis dari Canonical

Hari ini, saya kembali mendapatkan CD Ubuntu gratis yang pernah saya request dari situs http://shipit.ubuntu.com. Sebelumnya saya memang pernah mendapatkan CD Ubuntu gratis dari situs yang sama, namun saat itu Ubuntu yang saya dapat masih versi 6.06 LTS dan kali ini Ubuntu yang saya dapat sudah mencapai versi 9.10.

Dari ketiga jenis Ubuntu yang ditawarkan oleh situs Canonical (Ubuntu Desktop, Kubuntu, dan Ubuntu Server) saya memilih Ubuntu Desktop untuk Intel, dan saya melakukan request untuk empat buah CD dan akhirnya CD itu datang ke alamat saya langsung dari negeri kincir angin, Belanda

Terima kasih Ubuntu..!!!

(download)

Filed under  //  Linux   blogging  

Comments (1)

Jan 18 / 5:22am

Mengoptimalkan fungsi monitor widescreen

Media_http2bpblogspot_wwukg


Saat ini, sebagian besar laptop yang dijual di pasaran sudah pasti memiliki bentuk monitor dengan bentuk melebar kesamping (atau kita kenal dengan istilah widescreen), begitu juga dengan monitor LCD yang dijual saat ini kebayakan memiliki bentuk widescreen.

Dengan layar lebar, saat melakukan browsing di Internet kita bisa membuka dua buah browser sekaligus dan menampilkannya secara berdampingan dengan mode vertikal (Tile Windows Vertically).

Namun ada cara yang lebih mudah bagi kita untuk membuka dua buah situs dalam satu jendela browser, sehingga kita tidak usah membuka dua jendela browser dan menampilkannya secara berdampingan seperti di atas, namun cukup mebuka satu jendela browser saja.

Sebelumnya, pastikan bawah kita menggunakan browser Firefox, lalu ikuti langkah berikut :
1. Buka browser Firefox
2. pada bagian address bar (kolom yang biasa kita isi dengan alamat situs), masukkan script berikut ini (Copy - paste aja biar gak ribet ya...)
3. Setelah kita menekan tombol ENTER, maka akan keluar tulisan "masukkan URL 1", silahkan masukkan alamat situs yang ingin kita buka lalu tekan ENTER, maka akan keluar tulisan "masukkan URL 2", dan ketiklah alamat situs kedua yang ingi kita buka, lalu tekan ENTER
4. Sekarang Firefox akan menampilkan dua buah situs dalam satu tab dan satu jendela browser yang sama secara berdampingan.

Selain trik diatas berguna untuk menampilkan dua buah situs yang berbeda secara bersamaan, dengan trik ini kita bisa lebih mengoptimalkan fungsi monitor widescreen yang kita miliki sehingga penggunaan area layar lebar menjadi lebih optimal... semoga bermanfaat.

Filed under  //  blogging   tips-trick  

Comments (0)

Dec 31 / 12:51pm

Top 10 Things I Learned From Google in 2009

As loyal readers know -- and much to the chagrin of at least one fellow columnist -- I've devoted a lot of time and word-count this year documenting what I've learned from Google. In August I wrote "Everything I Need to Know About Marketing, I Learned From Google." In it, I shared 10 simple but elegant lessons Google taught the marketing world along with examples of companies that were putting these concepts into play.

That column generated a strong response from the MediaPost community, so I followed up it up with another five lessons and then another five. Once the Google juice started flowing, I couldn't stop -- so I went on to cover five lessons Google taught us about product development before spilling a three-part-series on general business lessons learned from Google. Finally, I had a little fun contemplating what I learned from Google about dating.

Today, I'd like to broaden the filter even more and share the top 10 things I learned from Google this year...

1. Google is fascinating. Clearly, I'm not the only one obsessed with Google. In 2009, Google was not only the most visited Web site, but the most valuable brand in the world. From Google Wave to the Google phone to the real Google phone, we hung on every announcement out of Mountain View. This year, the Big G was officially deified when Jeff Jarvis released "What Would Google Do?" (Be sure to get the 411 on WWGD and see how it compares to my forthcoming book -- more on the latter later.) Not satisfied with comparisons to Christ, Google even managed to track down Santa Claus this year

2. In the future, everyone will be famous for 15 seconds. With Google incorporating real-time results on the SERP, you don't have to crash a state dinner or sleep with Tiger Woods to get mass exposure. (Those are, however, both good ways to get crabs.) Instead, just tweet about a trending topic and you can garner a page-one Google listing. But beware, such fame is fleeting. With results continually updating dynamically, you're lucky if your ranking lasts 15 seconds, much less 15 minutes.

3. Faster is better. 2009 was the year Google decided the Web wasn't nearly fast enough for you. In June, it broke a campaign called "Let's make the Web faster" and opened up its Page Speed tool. In August, it unveiled "Caffeine," shaving precious tenths-of-seconds off loading times. Later, in December, it introduced Google Public DNS. As Jarvis observes in WWGD, "Google has made us impatient people, more than we know. If we can get any of the world's knowledge in a blink, why should we wait on hold or in line or until your office opens."

4. Google knows us better than we know ourselves. In May, Google added new features to Google Suggest, including personalization. (Proving that the power of suggestion cannot be ignored, Mashable captured some of the funniest Google Suggest results.) Google also launched personalized recommendations for Google Reader in October. And, finally, in December, Google rolled out personalized search for everyone, regardless if you have a Google account and/or are logged in. While personalization is great, I've long worried that it will create self-fulfilling prophecies. Nonetheless, perhaps it's time to admit that Google knows best.

5. Birds of a feather flock together. I've always thought that the perfect search engine would incorporate signals from my social graph. This year, Google demonstrated that it agreed. But not in the way I had hoped. In October, Google bowed a social search experiment in labs. This feature allows content from people in your social graph to bubble up in the results. And, while that's all fine and dandy, I'd find it more helpful if the content preferred by my friends, not created by them, bubbled up to the top. I'd love to see a Sidestep-like slider that allows me to toggle the SERP based on listings most-often clicked on by my friends and connections. I'd also like to be able to easily see the most popular listings based on general demo and geo selects -- that is, results preferred by men 25-54 in Chicago.

6. There is a place for display ads on SERPs. I felt like an old 49'er finding gold in them thar hills when I searched for a "wireless monitoring system" one fine Saturday in November and found graphic ads on the Google results page. Like Woodward and Bernstein blowing the whistle on Watergate, I quickly grabbed screenshots and posted them to my blog. Turns out these were just Product Listing Ads announced by Google a few days earlier. To be sure, I've been calling for display ads on SERPs since 2007 when I wrote in my Search Insider column, "as long as the ads are relevant, non-interruptive and clearly marked 'sponsored' -- like current PPC text listings -- I think display ads on SERPs could be received well (or at least not cause mass revolt)." Looks like my wish has been granted. I'd still like to see Google push the envelope further on the SERP from an advertising standpoint -- specifically, allowing creative unit rotation using tools like Teracent (which Google bought last month) and third-party serving.

7. Mobile marketing has arrived. In November, Google gave us 750 million reasons why mobile is now a viable part of the marketing mix. And, while we may still be awaiting the ideal ad format -- sorry, banner ads on WAP sites and in apps just don't do it for me -- there's no denying that mobile should be a part of every marketer's consideration set.

8. You can mask anything with a pretty dashboard. During my tenure on the agency side, I became all-too aware of the power of the dashboard. In new business pitches, I would watch in amazement as clients drooled over anything we put on the screen that flashed, blinked and had moving dials. And when we showed dashboards that integrated search data with other media channels, you'd have thought we had just given a demo of the first slide projector. (Don Draper would be proud.) In November, Google stole a page from agency pitch-theater by unveiling a dashboard of its own meant to dazzle privacy advocates. I'm not sure this will have the same effect, though.

9. We live in a sick world. While swine flu was busy sweeping through barns and classrooms around the world this year, Google was busy tracking it through Google Flu Trends. In October, Google expanded this project to 16 additional countries so people could figure out how many disposable masks and gloves they needed to pack before traveling.

10. It's time to throw the book at 'em. Two weeks ago, I agreed to terms with McGraw-Hill to publish a book with the working title, "Everything I Know About Marketing, I Learned From Google." My manuscript is due March 31 for a fall 2010 release so, for the near-term, I'll be pouring all of my creative writing energy into my book. Accordingly, I won't be writing original content for my bi-weekly Search Insider column in Q1. Instead, I'll be sharing excerpts from the interviews I'm conducting with various industry luminaries about marketing lessons learned from Google that will be peppered throughout my book. On Jan. 13, you'll read the first in this series featuring the wise words of Seth Godin.

I'd like to thank MediaPost for supporting this project and all of you for reading and participating. Please share your thoughts via comments below and @LearnFromGoogle on Twitter. Sorry, Rob, you'll have to put up with this thread for a little while longer.

As we wave goodbye to 2009, I'd like to wish you all a happy and healthy new year and plenty of Googspiration in 2010!

[via MediaPost]

Filed under  //  Curhat   artikel   blogging  

Comments (0)

Dec 20 / 3:52am

Tanpa kita sadari, Mobile Internet telah mendominasi sejak 5 tahun terakhir

Disadari atau tidak, Mobile Internet ternyata telah tumbuh lebih cepat daripada koneksi Internet untuk perangkat komputer desktop, dan selama lima tahun terakhir ini kebanyakan pengguna lebih banyak mengakses Internet dari perangkat ponsel mereka ketimbang melalui komputer desktop.

Baca selanjutnya >>

.

Filed under  //  artikel   blogging   opini  

Comments (0)