RosganiSoft Mobile Article

RosganiSoft Mobile Article

Oki Rosgani  //  Visit my website at http://www.mobile-article.com or follow @rosgani on Twitter

Feb 12 / 5:59am

Guru Lawan Google

”It is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change.” (Charles Darwin)

Saat ini perkembangan ilmu pengetahuan telah menjadi pilar utama penyempurnaan hidup di muka bumi. Akibatnya, berbagai perubahan harus selalu terjadi setiap saat. Sesuai pernyataan Charles Darwin, jika manusia tidak ingin mengalami kepunahan, mereka harus memiliki sifat adaptif. Dalam menjalankan proses adaptasi tersebut diperlukan efektivitas untuk merespons perubahan.

Akibat perilaku yang harus adaptif ini muncul teknologi komunikasi yang mampu melintasi sekat ruang dan waktu. Perubahan di dunia dapat diketahui lewat sebuah laptop hanya dalam hitungan detik.

Agen pendidikan

Salah satu teknologi canggih yang mampu memfasilitasi ilmu pengetahuan adalah Google. Google yang lahir dari pertemuan tidak sengaja antara Larry Page dan Sergey Brin pada tahun 1995 telah membalikkan sekat keterbatasan informasi. Embrio search engine yang diberi nama BackRub, pada tanggal 7 September 1998 berkembang sempurna menjadi Google.

Mesin pencari supercanggih ini dapat mencari sebuah istilah hanya dalam satuan detik yang tersaji dalam jutaan situs internet. Di dunia pendidikan, search engine ini mampu mengubah jejaring pemikiran para pelaku pendidikan. Seorang siswa dapat searching seluas-luasnya untuk mengeksplorasi sebuah pengetahuan baru. Dari mencari arti kata, materi pelajaran, sampai teknologi yang terkini dapat digali dengan mudah. Banjir informasi menjadi fenomena yang sangat indah untuk dinikmati.

Pemahaman tentang sebuah materi pelajaran pun terolah dengan lebih baik. Siswa tidak lagi harus mengeluarkan banyak biaya untuk membeli berbagai judul buku. Cukup klik dan dapat!

Para pendidik juga tidak ketinggalan atas kehebatan teknologi mesin pencari ini. Dari pencarian silabus, soal ulangan, sampai artikel ilmiah terbaru dapat diakses dengan mudah. Transfer ilmu pengetahuan antara guru dan siswa dapat berjalan dengan efektif. Libido ilmu pengetahuan yang selama ini terkekang sekarang dapat tersalurkan dengan nyaman.

Lebih dari Google

Suatu saat pernah seorang guru menjadi merah padam di depan kelas akibat Google ini. Pagi itu seorang siswa sudah ”sarapan” dengan mengakses perkembangan teknologi terbaru melalui fasilitas Google. Kebetulan, materi pelajaran hari itu berhubungan dengan teknologi terkini yang ia temukan.

Singkat cerita, di dalam kelas, siswa mencobai gurunya dengan bertanya seputar teknologi terbaru itu. Guru yang tadi pagi hanya sarapan nasi dan tempe itu akhirnya menjawab sekenanya, dan ternyata salah. Ia pun tergagap di depan kelas karena ditertawakan para murid akibat kesalahan yang ia lakukan.

Sekelumit gambaran tadi menunjukkan pentingnya seorang guru untuk selalu meng-up grade diri. Siswa masuk kelas bukan lagi dengan tidak bermodal, tetapi telah penuh dengan fantasi dan eksplorasi ilmiahnya.

Melihat situasi ini, lantas masih perlukah peran seorang guru? Bukankah Google lebih hebat daripada guru? Jika seorang guru diadu dengan Google dalam kecepatan mengartikan, jelas guru akan kalah telak. Lalu, bagaimana nasib seorang guru selanjutnya?

Perlu diingat bahwa seorang guru bukan hanya pengajar yang mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi sekaligus sebagai pendidik yang memanusiawikan manusia menjadi sempurna. Yesus Sang Isa Almasih pernah berkata, ”Jadilah kamu sempurna seperti Bapamu di surga sempurna adanya (Injil Matius 5:48)”.

Ilmu eling marang sangkan paraning dumadi (ingat akan tujuan kita diciptakan) menjadi bekal dasar seorang guru. Guru bukan sekadar pesaing dari Google sebagai alat mentransfer ilmu pengetahuan. Guru memiliki peran lebih untuk menyempurnakan kehidupan seorang pribadi agar serupa dengan Sang Khalik. Tidak hanya menjadikan siswa having, melainkan being.

Seperti dalam agama Hindu, guru bukan saja dinobatkan sebagai sang pembagi ilmu, tetapi sebagai tempat suci yang berisi ilmu (vidya). Hal ini semakin menguatkan peran guru yang sangat mulia. Guru masih lebih unggul daripada Google karena guru mampu mengajarkan sisi humanis yang tidak dapat diberikan mesin pencari secanggih apa pun.

Dalam kehidupan nyata tidak hanya diperlukan berlimpahnya ilmu pengetahuan dalam otak, tetapi juga sisi manusiawi agar bisa memanusiawikan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan memanusiawikan manusia saat berelasi dengan pribadi lain. Bukan kebun binatang Jika guru tetap sebatas mentransfer ilmu, sekolah tidak jauh berbeda dengan kebun binatang.

Sebenarnya pendidikan bukanlah proses ”penjinakan”, tetapi ”peliaran”. Pendidikan kita seharusnya berusaha ”meliarkan”, memunculkan sifat manusiawi sebagai sifat dasar yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada makhluk yang diberi nama manusia.

Pendidikan bukanlah seperti kebun binatang dengan hiburan sirkus binatang di dalamnya. Di dalam kebun binatang terjadi proses domestikasi, yaitu membatasi kehidupan liar binatang. Akibatnya, sifat hewani tidak akan muncul dari dalam kebun binatang. Jeruji, tembok pembatas, dan ransum makanan menjadi cara untuk domestikasi. Atraksi berbagai binatang yang sering kita jumpai di kebun binatang semakin meyakinkan pembatasan kehidupan mereka.

Para binatang tidak lagi diajar untuk bisa survive di kehidupan hewani liarnya, tetapi justru diajar untuk melakukan tindakan-tindakan aneh. Mana mungkin di tengah hutan ada monyet naik sepeda. Mana mungkin di tengah samudra yang penuh kompetisi dapat diatasi lumba-lumba karena kecerdasannya dalam mengerjakan soal penjumlahan.

Jika guru telah lupa untuk mengajarkan sifat manusiawi suatu ilmu pengetahuan dan memanusiawikan peserta didik, pendidikan yang terjadi tidak jauh berbeda dengan situasi di kebun binatang. Pemahaman kita perlu disegarkan kembali bahwa teknologi hanyalah hasil akhir dari ilmu pengetahuan yang bersifat material, bisa rusak, bisa berubah, dan suatu saat bisa tidak bermanfaat. Karena itu, interaksi antarmanusia yang didasari kontak teknologi belaka akan terasa kering karena bersandar pada nilai material.

Pendidikan tidak dapat bersandar pada teknologi semata, melainkan juga harus melibatkan hati yang dimiliki setiap pribadi manusia. Akhirnya ungkapan Charles Darwin akan semakin tepat dan survive jika dipadu dengan ungkapan indah Mariah Carey dalam lagunya yang berjudul ”Hero”: If you look inside your heart… you know you can survive. (Jika engkau becermin ke dalam hatimu, engkau tahu bahwa engkau bisa bertahan!)

R ARIFIN NUGROHO Guru SMA Kolese De Britto Yogyakarta

Filed under  //  Artikel   blogging   opini  

Comments (0)

Jan 22 / 4:02pm

Bagaimana alat skimmer bekerja pada mesin ATM ?

Media_httpwwwclcamacu_fhxbt

Baru-baru ini, kita dikejutkan oleh berita yang mengabarkan adanya beberapa nasabah dari bank terkemuka di Indonesia yang mengalami korban pembobolan uang di rekening mereka melalui mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri), tulisan ini dimaksudkan hanya sebagai informasi sehingga kita tidak menjadi korban berikutnya.

silahkan baca selanjutnya disini >>

.

Filed under  //  artikel   tips-trick  

Comments (0)

Dec 31 / 12:51pm

Top 10 Things I Learned From Google in 2009

As loyal readers know -- and much to the chagrin of at least one fellow columnist -- I've devoted a lot of time and word-count this year documenting what I've learned from Google. In August I wrote "Everything I Need to Know About Marketing, I Learned From Google." In it, I shared 10 simple but elegant lessons Google taught the marketing world along with examples of companies that were putting these concepts into play.

That column generated a strong response from the MediaPost community, so I followed up it up with another five lessons and then another five. Once the Google juice started flowing, I couldn't stop -- so I went on to cover five lessons Google taught us about product development before spilling a three-part-series on general business lessons learned from Google. Finally, I had a little fun contemplating what I learned from Google about dating.

Today, I'd like to broaden the filter even more and share the top 10 things I learned from Google this year...

1. Google is fascinating. Clearly, I'm not the only one obsessed with Google. In 2009, Google was not only the most visited Web site, but the most valuable brand in the world. From Google Wave to the Google phone to the real Google phone, we hung on every announcement out of Mountain View. This year, the Big G was officially deified when Jeff Jarvis released "What Would Google Do?" (Be sure to get the 411 on WWGD and see how it compares to my forthcoming book -- more on the latter later.) Not satisfied with comparisons to Christ, Google even managed to track down Santa Claus this year

2. In the future, everyone will be famous for 15 seconds. With Google incorporating real-time results on the SERP, you don't have to crash a state dinner or sleep with Tiger Woods to get mass exposure. (Those are, however, both good ways to get crabs.) Instead, just tweet about a trending topic and you can garner a page-one Google listing. But beware, such fame is fleeting. With results continually updating dynamically, you're lucky if your ranking lasts 15 seconds, much less 15 minutes.

3. Faster is better. 2009 was the year Google decided the Web wasn't nearly fast enough for you. In June, it broke a campaign called "Let's make the Web faster" and opened up its Page Speed tool. In August, it unveiled "Caffeine," shaving precious tenths-of-seconds off loading times. Later, in December, it introduced Google Public DNS. As Jarvis observes in WWGD, "Google has made us impatient people, more than we know. If we can get any of the world's knowledge in a blink, why should we wait on hold or in line or until your office opens."

4. Google knows us better than we know ourselves. In May, Google added new features to Google Suggest, including personalization. (Proving that the power of suggestion cannot be ignored, Mashable captured some of the funniest Google Suggest results.) Google also launched personalized recommendations for Google Reader in October. And, finally, in December, Google rolled out personalized search for everyone, regardless if you have a Google account and/or are logged in. While personalization is great, I've long worried that it will create self-fulfilling prophecies. Nonetheless, perhaps it's time to admit that Google knows best.

5. Birds of a feather flock together. I've always thought that the perfect search engine would incorporate signals from my social graph. This year, Google demonstrated that it agreed. But not in the way I had hoped. In October, Google bowed a social search experiment in labs. This feature allows content from people in your social graph to bubble up in the results. And, while that's all fine and dandy, I'd find it more helpful if the content preferred by my friends, not created by them, bubbled up to the top. I'd love to see a Sidestep-like slider that allows me to toggle the SERP based on listings most-often clicked on by my friends and connections. I'd also like to be able to easily see the most popular listings based on general demo and geo selects -- that is, results preferred by men 25-54 in Chicago.

6. There is a place for display ads on SERPs. I felt like an old 49'er finding gold in them thar hills when I searched for a "wireless monitoring system" one fine Saturday in November and found graphic ads on the Google results page. Like Woodward and Bernstein blowing the whistle on Watergate, I quickly grabbed screenshots and posted them to my blog. Turns out these were just Product Listing Ads announced by Google a few days earlier. To be sure, I've been calling for display ads on SERPs since 2007 when I wrote in my Search Insider column, "as long as the ads are relevant, non-interruptive and clearly marked 'sponsored' -- like current PPC text listings -- I think display ads on SERPs could be received well (or at least not cause mass revolt)." Looks like my wish has been granted. I'd still like to see Google push the envelope further on the SERP from an advertising standpoint -- specifically, allowing creative unit rotation using tools like Teracent (which Google bought last month) and third-party serving.

7. Mobile marketing has arrived. In November, Google gave us 750 million reasons why mobile is now a viable part of the marketing mix. And, while we may still be awaiting the ideal ad format -- sorry, banner ads on WAP sites and in apps just don't do it for me -- there's no denying that mobile should be a part of every marketer's consideration set.

8. You can mask anything with a pretty dashboard. During my tenure on the agency side, I became all-too aware of the power of the dashboard. In new business pitches, I would watch in amazement as clients drooled over anything we put on the screen that flashed, blinked and had moving dials. And when we showed dashboards that integrated search data with other media channels, you'd have thought we had just given a demo of the first slide projector. (Don Draper would be proud.) In November, Google stole a page from agency pitch-theater by unveiling a dashboard of its own meant to dazzle privacy advocates. I'm not sure this will have the same effect, though.

9. We live in a sick world. While swine flu was busy sweeping through barns and classrooms around the world this year, Google was busy tracking it through Google Flu Trends. In October, Google expanded this project to 16 additional countries so people could figure out how many disposable masks and gloves they needed to pack before traveling.

10. It's time to throw the book at 'em. Two weeks ago, I agreed to terms with McGraw-Hill to publish a book with the working title, "Everything I Know About Marketing, I Learned From Google." My manuscript is due March 31 for a fall 2010 release so, for the near-term, I'll be pouring all of my creative writing energy into my book. Accordingly, I won't be writing original content for my bi-weekly Search Insider column in Q1. Instead, I'll be sharing excerpts from the interviews I'm conducting with various industry luminaries about marketing lessons learned from Google that will be peppered throughout my book. On Jan. 13, you'll read the first in this series featuring the wise words of Seth Godin.

I'd like to thank MediaPost for supporting this project and all of you for reading and participating. Please share your thoughts via comments below and @LearnFromGoogle on Twitter. Sorry, Rob, you'll have to put up with this thread for a little while longer.

As we wave goodbye to 2009, I'd like to wish you all a happy and healthy new year and plenty of Googspiration in 2010!

[via MediaPost]

Filed under  //  Curhat   artikel   blogging  

Comments (0)

Dec 20 / 3:52am

Tanpa kita sadari, Mobile Internet telah mendominasi sejak 5 tahun terakhir

Disadari atau tidak, Mobile Internet ternyata telah tumbuh lebih cepat daripada koneksi Internet untuk perangkat komputer desktop, dan selama lima tahun terakhir ini kebanyakan pengguna lebih banyak mengakses Internet dari perangkat ponsel mereka ketimbang melalui komputer desktop.

Baca selanjutnya >>

.

Filed under  //  artikel   blogging   opini  

Comments (0)

Dec 20 / 3:49am

Layanan Internet Mobile 4G mulai bermunculan di kawasan Eropa dan Amerika

Sebuah perusahaan telekomunikasi di Swedia TeliaSonera telah menjadi operator pertama di dunia yang menawarkan layanan Internet nirkabel dengan teknologi 4G yang tersedia untuk sebagian kawasan di Eropa, perusahaan tersebut telah mengumumkan adanya layanan tersebut pada hari Senin lalu, sehingga beberapa kawasan seperti Stockholm, Swedia dan Oslo, Norwegia dapat menikmati layanan tersebut. Perusahaan itu juga tengah mempersiapkan untuk memperluas layanan jaringan 4G tersebut ke 25 kota di Swedia dan 4 negara di Norwegia pada akhir tahun 2010.

Baca selanjutnya >>

.

Filed under  //  artikel   blogging   opini  

Comments (0)

Dec 2 / 12:20am

25 situs blog yang dapat membantu kita mengoptimalkan situs media sosial

Sebagian dari kita tentu tahu bahwa keberadaan media sosial sangat bermanfaat dan membantu kita untuk melakukan sosialisasi dan akutuali diri, namun kebanyakan dari kita juga tidak dapat mengikuti trend media sosial yang terus berubah dengan cepat.

Baca selanjutnya disini >>
.

Filed under  //  artikel   blogging   opini  

Comments (0)

Nov 22 / 1:24pm

10 Fitur Microsoft Windows yang diambil dari Apple Macitosh

Media_httpwwwfeedberr_dafif

Perdebatan antara Windows dan Macintosh sepertinya tidak pernah berhenti begitu saja, mereka selalu mengklaim bahwa sistem operasi lawan mereka telah mencuri fitur yang dibuatnya dan sepertinya ini menjadi topik hangat yang selalu menarik untuk dibahas.

Walaupun pada kenyataannya, kedua OS ini memang menggunakan aplikasi inti yang berbeda. namun persamaan fitur yang ada didalamnya membuatnya menimbulkan diskusi dinamis diantara para penggunanya.

Silahkan baca selanjutnya disini >>

.

Filed under  //  artikel   software  

Comments (0)

Nov 22 / 1:20pm

10 Fitur Apple Macintosh yang diambil dari Microsoft Windows

Perdebatan antara Windows dan Macintosh sepertinya tidak pernah berhenti begitu saja, mereka selalu mengklaim bahwa sistem operasi lawan mereka telah mencuri fitur yang dibuatnya dan sepertinya ini menjadi topik hangat yang selalu menarik untuk dibahas.

Walaupun pada kenyataannya, kedua OS ini memang menggunakan aplikasi inti yang berbeda. namun persamaan fitur yang ada didalamnya membuatnya menimbulkan diskusi dinamis diantara para penggunanya.

Silahkan baca selanjutnya di sini >>

.


Filed under  //  artikel   software  

Comments (0)

Nov 3 / 9:16am

Kehadiran Droid Akankah Menjadi Ancaman Serius Bagi iPhone?

Saat ini kemunculan ponsel Android sudah mulai meramaikan pasaran ponsel di dunia, bahkan saat ini ponsel Android sudah banyak beredar di Indonesia, baik melalui jalur resmi maupun tidak resmi alias Black Market (BM). Baru-baru ini Motorola telah mengeluarkan smartphone yang bertajuk Droid yang memiliki segudang kemampuan mulai dari akses Internet kecepatan tinggi, Peta Digital dari Google, pemutar musik dan video serta memiliki fitur layar sentuh dan kamera. Dengan hadirnya Motorola Droid ini, bukan hanya perangkat PND (Personal Navigation Device) yang merasa terancam, namun Apple iPhone juga dibuat ketar-ketir.

Benarkah?, silahkan baca selanjutnya di sini >>
.

Filed under  //  android   artikel   gadget   iphone   opini  

Comments (0)

Nov 2 / 2:22pm

10 Tools untuk meningkatkan performa Windows 7

Windows 7 memang merupakan produk baru yang baru saja diluncurkan oleh Microsoft, namun itu bukan berarti belum ada tools atau aplikasi yang bisa meningkatkan kinerjanya. Dalam dunia sistem operasi, peningkatan kinerja dengan bantuan sebuah aplikasi disebut dengan Tweak. Saya telah menemukan 10 buah tools (beberapa diantaranya gratis) untuk meningkatkan kinerja Windows 7 atau tools melakukan upgrade dari Windows XP atau Vista ke Windows 7 dengan mudah.

Silahkan baca selanjutnya di sini >>

Filed under  //  artikel   software   tips-trick  

Comments (0)